Jawa Barat — Duka mendalam kembali menyelimuti keluarga pramugari Esther Aprilita Sianipar, salah satu awak kabin pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Keluarga besar di Bogor hingga kini masih menyimpan harapan akan mukjizat dan keselamatan putri sulung mereka, meskipun tim SAR gabungan terus berupaya mencari serta mengidentifikasi seluruh korban di lokasi kecelakaan.
Latar Belakang Kecelakaan dan Harapan Keluarga
Pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak ketika melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada 17 Januari 2026 membawa total 10 orang — tujuh kru serta tiga penumpang — termasuk Esther yang telah mengabdi sebagai pramugari selama enam tahun. Keluarga terus mengikuti perkembangan pencarian meski medan yang terjal, berkabut, dan berawan di pegunungan menjadi tantangan besar bagi tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI/Polri, dan relawan setempat.
Ibunda Esther, J. Siburian, berharap bahwa mukjizat masih mungkin terjadi. “Selama kami belum melihat Esther, kami masih berharap. Mukjizat Tuhan pasti ada,” ujarnya dengan suara penuh harap saat ditemui di rumah keluarga di Bogor. Menurutnya, komunikasi terakhir dengan sang anak berlangsung sehari sebelum kecelakaan, saat Esther masih sempat mengabarkan dirinya berada di Yogyakarta.
Fakta Operasi Pencarian dan Evakuasi
Operasi pencarian hingga kini terus berjalan meski kekhawatiran mulai meningkat. Sebagian puing pesawat sudah ditemukan di lokasi jatuhnya ATR, dan dua jenazah telah berhasil dievakuasi, namun delapan orang lainnya termasuk Esther masih belum ditemukan. Medan ekstrem dengan jurang sedalam 200–500 meter serta cuaca yang berubah cepat menjadi hambatan serius bagi tim pencari.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafi’i, mengakui kondisi pesawat yang ditemukan dalam keadaan hancur dan menyampaikan bahwa kemungkinan korban selamat sangat kecil. Namun ia tetap menyampaikan harapan agar mukjizat bisa terjadi, mengingat dalam beberapa kecelakaan udara sebelumnya pernah ada penumpang yang ditemukan dalam kondisi hidup setelah beberapa hari. “Kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” katanya di Jakarta.
Data manifest menunjukkan kru pesawat terdiri dari kapten, kopilot, teknisi, dan dua pramugari termasuk Esther Aprilita. Tiga penumpang lainnya merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan. Upaya pencarian kini memasuki tahap evakuasi, identifikasi, serta penyusunan puing pesawat untuk investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Dampak Emosional pada Keluarga dan Komunitas
Keluarga Esther bukan satu-satunya yang berharap mukjizat terjadi. Keluarga pilot dan awak kabin lain juga menyampaikan doa dan harapan serupa meskipun prospek selamat sangat tipis mengingat kondisi serpihan pesawat yang ditemukan. Adik ipar dari Captain Andy Dahananto menyebut bahwa dalam keadaan yang tampak buruk sekalipun, mukjizat tetap menjadi harapan terbesar keluarga.
Bagi warga Bogor dan komunitas luas, tragedi ini menjadi pengingat tentang risiko profesi awak kabin dan pilot yang setiap hari menghadapi tantangan di udara demi keselamatan penumpang. Esther, yang dikenal sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dan sosok yang mandiri, menjadi simbol harapan bagi keluarganya.
Analisis Singkat: Tantangan Lokasi & Next Steps
Pencarian di medan ekstrem membutuhkan koordinasi tinggi antara Basarnas, relawan, dan otoritas setempat. Cuaca buruk serta kontur pegunungan memaksa tim SAR memperkuat strategi evakuasi termasuk penggunaan helikopter dan teknik hoist. Sementara itu, proses identifikasi korban melalui metode DNA terus dipercepat untuk memberi kepastian kepada keluarga.
Meski harapan akan mukjizat terus disuarakan, data awal dari Basarnas memberi gambaran realistis bahwa kemungkinan besar semua korban tidak selamat. Namun, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa mukjizat dalam situasi ekstrem bukanlah hal mustahil — meskipun kasus seperti itu sangat jarang terjadi.











