YOGYAKARTA – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mendorong pemanfaatan pendekatan psikologi untuk memahami sekaligus menjawab berbagai persoalan sosial yang berkembang di Kota Yogyakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Hal itu disampaikan Hasto saat menjadi pembicara kunci dalam International Symposium on Community Psychology (ISCP) yang digelar Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026).
Hasto berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi akademik, tetapi mampu menghasilkan kajian dan program yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan masyarakat.
“Kita inginnya berdampak. Jadi ada applied (terapan) simposium,” kata Hasto.
Soroti Penuaan Penduduk
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Hasto adalah aging population atau penuaan penduduk.
Dalam paparannya, Hasto menyebut persentase penduduk lanjut usia di DIY mencapai 17,83 persen, berada di atas rata-rata nasional. Kondisi tersebut, menurutnya, memiliki konsekuensi terhadap generasi usia produktif yang berpotensi menjadi sandwich generation karena harus menopang kebutuhan orang tua yang telah lanjut usia.
Menurut Hasto, kondisi demografi tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari ekosistem sosial Yogyakarta sehingga kebijakan yang disusun dapat lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kesehatan Mental hingga Perceraian
Selain penuaan penduduk, Hasto menyoroti persoalan kesehatan mental, perceraian, perilaku toksik, hingga kenakalan remaja.
Ia menyampaikan bahwa meningkatnya berbagai persoalan tersebut perlu direspons dengan pendekatan yang lebih preventif, termasuk melalui kebijakan pendidikan sejak tingkat dasar dan menengah.
Hasto juga mendorong adanya perhatian lebih besar terhadap upaya mencegah konflik keluarga dan broken home.
Menurutnya, pemahaman mengenai kondisi psikologis masyarakat dapat membantu melahirkan program yang lebih tepat sasaran.
SDM Jadi Modal Utama Yogyakarta
Hasto juga menekankan pentingnya sumber daya manusia bagi Yogyakarta. Menurutnya, sebagai wilayah yang tidak mengandalkan sumber daya alam, Yogyakarta perlu terus memperkuat kualitas SDM.
Ia menyebut kualitas SDM dipengaruhi oleh ekosistem yang mencakup pendidikan, lingkungan, pengelolaan sampah, air, dan sanitasi.
Karena itu, persoalan psikologi masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan tempat masyarakat tumbuh dan menjalani kehidupan.
Psikologi Harus Dekat dengan Masyarakat
Wakil Dekan Fakultas Psikologi UAD Muhammad Nur Syuhada’ mengatakan ISCP mengusung tema “Creating Sustainable Communities through Collective Action, Social Justice and Community Empowerment.”
Menurutnya, psikologi tidak hanya berkaitan dengan pemahaman terhadap individu, tetapi juga komunitas tempat individu tersebut hidup.
Ia berharap hasil penelitian dan pertukaran gagasan dalam simposium dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata melalui kolaborasi dengan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, ilmu psikologi diharapkan tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat berkontribusi terhadap pembangunan masyarakat yang lebih sehat, kuat, inklusif, dan berdaya. [KN]











